Minggu, 05 September 2010

Kisah ku

Waktu itu saya masih duduk di kelas 1 MTsN (setingkat dengan SLTP), saya saat itu telah merasakan bagaimana kehidupan di asrama karena sekolah saya dulu juga mewajibkan tinggal di asrama.

Awal-awal tinggal di asrama saya merasa sangat tidak betah, saya terus-terusan menangis dan minta di pindahkan., tetapi orang tua saya tidak mengizinkan. Berkali-kali saya memohon pindah ban tetap tidak di izinkan. Karena merasa tidak ada cara lagi untuk membujuk kedua orang tua saya, maka saya jalani hari-hari di asrama dengan tidak bersemangat. Sekali-kali saya coba kembali menyinggung masalah kepindahan, tapi orang tua saya tetap saja tidak menanggapinya, mereka menganggapnya sebagai angin lalu.

Hari Rabu dan Minggu adalah hari berkunjung keluarga. Ayah dan mama tetap mengunjungi saya seperti biasa. Hingga suatu ketika saya jatuh sakit, sampai harus di rawat di rumah. Dalam hati saya sedikit gembira, mungkin dengan sakit yang sedang saya derita ini hati orang tua saya luluh, sehingga mengizinkan saya pindah ke sekolah lain yang tidak mewajibkan asrama. Saya coba mengutarakan kembali keinginan saya untuk pindah, dan mereka tetap teguh pada pendirian mereka untuk mempertahankan saya di asrama. Timbul dalam pikiran saya bahwa orang tua saya tidak menyayangi saya. Saya merasa kesal, sedih, semua perasaan bercampur aduk.

Setelah sembuh dari sakit, saya kembali ke asrama memulai rutinitas asrama dan sekolah tanpa semangat. Tibalah pada ujian mid semester, saya belajar meskipun sedikit malas-malasan karena tidak betah sekolah di sini.

Alhamdulillah hasil ujian keluar, saya mendapat nilai yang lumayan baik. Orang tua saya senang melihat nilai saya, saat itu saya coba kembali membujuk untuk pindah, tidak seperti biasanya kali ini mereka menanggapi. Mama saya hanya berkata “alas an mama masukkin Dara pesantren, supaya Dara bias mandiri saat mama dan ayah nggak ada lagi nanti”. Saya tertegun mendengar penututan mama saya, kemudian ayah menambahkan “Dara pasti bisa melewati semua ini. Kalau orang lain bisa kenapa kita nggak??”

Mendengar dua kalimat dari mereka saya sangat merasa bersalah pernah menuduh meraka yang tidak baik. Mulai saat itu, saya coba menjalani semua dengan baik, ikhlas, seperti kata ayah saya ”KALAU ORANG LAIN BISA,KITA JUGA PASTI BISA”. Dan kata-kata mama saya terbukti,” DARA BISA MANDIRI SETELAH MAMA DAN AYAH SUDAH TIADA.” Mereka pergi pada tanggal 26 Desember 2004 dalam peristiwa tsunami di Aceh.

3 komentar:

  1. ya anakku kamu pasti bisa seperti yg ayah harapkan....doakan mereka dalam setiap sujudmu...karena merekalah kini engkau ada.....

    BalasHapus
  2. klo orng bjak blang, jdilah anak solehah, doakan kdua orang tuamu, karena skarang hanya doa2mulah yang dpat mnyelamatkan kdua orng tuamu . . .
    semoga qmu bsa, aaamiiin. . .
    #teman jauhmu#

    BalasHapus