Minggu, 17 November 2013

Kekuatan Impian

Hujan siang ini tiba-tiba mengingatkan ku tentang perjalanan hidup yang telah aku lalui sejauh ini. 
Bagaimana aku bisa berada disini? Berada di tempat yang bahkan terbersit dalam pikiran pun tak pernah. 
Tapi inilah kuasa Allah, Allah telah mentakdirkan aku ada disini, maka terjadilah.

Namaku Rahmah Dara Ayunda, aku dulunya tinggal di kota Banda Aceh hingga kelas 1 SMP, namun karena suatu kejadian, aku pindah ke sebuah daerah di Aceh Timur, tepatnya di dusun Pasir Putih Kecamatan Peureulak. Coba saja cari di peta, mungkin kalian akan menemukannya walaupun sangat kecil dan nyaris tak terlihat. 

Kehidupan awal ku di Peureulak tidak terlalu menyenangkan. Aku memutuskan meneruskan bersekolah di MTsN Peureulak, dengan pertimbangan sekolahku sebelumnya merupakan Tsanawiyah, jadi sebaiknya aku melanjutkan ke Tsanawiyah juga. 
Pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah baruku, aku sempat terpana, melihat kelas yang rasanya hampir ambruk, dindingnya berupa papan yang sudah bolong di beberaa bagian, papan tulis yang sudah tak bisa digunakan lagi sebagian besar permukaannya, meja dan kursi yang bahkan hampir patah, atap yang jika hujan deras dapat membuat kelas basah. Inikah sekolah baruku? Sungguh bagi anak baru berumur 12 tahun sepertiku, yang sebelumnya bisa belajar di gedung yang nyaman dengan fasilitas yang lengkap ini merupakan hal tak menyenangkan.

Selanjutnya aku melanjutkan pendidikan di SMA N 1 Peureulak, merupakan salah satu sekolah favorit di daerahku. Namun, tetap saja kami yang berada jauh dari perkotaan tidak berani bermimpi yang tinggi. Saat kelas 12, memutuskan kuliah pun hanya sekitaran Banda Aceh dan Medan. Tidak sedikitpun berpikiran kuliah ke pulau Jawa. Termasuk aku. Walaupun aku punya impian menginjakkan kaki di pulau Jawa, namun aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya, hanya berdoa dalam hati dan berusaha sebaik mungkin.

Menjelang UN, guru ku memanggilku mengabarkan ada beasiswa untuk pendidikan sarjana. Namun setiap sekolah hanya boleh mengirimkan satu wakilnya saja karena persaingan bukan hanya kecamatan, namun se-kabupaten. Aku yang sempat mewakili sekolah dan kabupaten dalam olimpiade Kimia provinsi Aceh mendapat kepercayaan untuk mengikuti seleksi beasiswa itu. Sempat aku pesimis, bagaimana mungkin aku bisa mendapatkannya, sementara harus bersaing ketat dengan banyak siswa-siswa cerdas lainnya dari seluruh kecamatan yang ada di Aceh Timur. Namun, banyak yang memberiku semangat, meyakinkanku bahwa aku bisa.

Pengumuman di koran itu yang menyadarkanku bahwa impian akan terwujud dengan adanya keyakinan, usaha, doa. Aku termasuk salah satu penerima beasiswa provinsi. Pihak beasiswa menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi terbaik Indonesia, diantaranya IPB (Institut Pertanian Bogor) dan ITS (Intitut Teknologi Sepuluh November). Aku memutuskan untuk memilih IPB.

Dokumentasi koran pengumuman J

Dan disinilah aku sekarang. Aku yang hanya anak desa dari pelosok pedalaman Aceh Timur bisa menginjakkan kaki di salah satu universitas terbaik kedua Indonesia (akreditasi 2013). Mengenyam pendidikan hingga tidak terasa aku sudah tingkat ahir.
Kini aku percaya kekuatan impian, usaha dan doa.

Jangan berhenti bermimpi,
Lets catch our dreams, J

Bogor, 17 November 2013
*di sela-sela hujan dan mencari topik penelitian 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar