Hujan siang ini tiba-tiba mengingatkan ku tentang perjalanan hidup
yang telah aku lalui sejauh ini.
Bagaimana aku bisa berada disini? Berada
di tempat yang bahkan terbersit dalam pikiran pun tak pernah.
Tapi inilah kuasa Allah, Allah telah
mentakdirkan aku ada disini, maka terjadilah.
Namaku Rahmah Dara Ayunda, aku dulunya
tinggal di kota Banda Aceh hingga kelas 1 SMP, namun karena suatu kejadian, aku
pindah ke sebuah daerah di Aceh Timur, tepatnya di dusun Pasir Putih Kecamatan
Peureulak. Coba saja cari di peta, mungkin kalian akan menemukannya walaupun
sangat kecil dan nyaris tak terlihat.
Kehidupan awal ku di Peureulak tidak
terlalu menyenangkan. Aku memutuskan meneruskan bersekolah di MTsN Peureulak,
dengan pertimbangan sekolahku sebelumnya merupakan Tsanawiyah, jadi sebaiknya
aku melanjutkan ke Tsanawiyah juga.
Pertama kali aku menginjakkan kaki di
sekolah baruku, aku sempat terpana, melihat kelas yang rasanya hampir ambruk,
dindingnya berupa papan yang sudah bolong di beberaa bagian, papan tulis yang
sudah tak bisa digunakan lagi sebagian besar permukaannya, meja dan kursi yang
bahkan hampir patah, atap yang jika hujan deras dapat membuat kelas basah.
Inikah sekolah baruku? Sungguh bagi anak baru berumur 12 tahun sepertiku, yang
sebelumnya bisa belajar di gedung yang nyaman dengan fasilitas yang lengkap ini
merupakan hal tak menyenangkan.
Selanjutnya aku melanjutkan pendidikan di
SMA N 1 Peureulak, merupakan salah satu sekolah favorit di daerahku. Namun,
tetap saja kami yang berada jauh dari perkotaan tidak berani bermimpi yang
tinggi. Saat kelas 12, memutuskan kuliah pun hanya sekitaran Banda Aceh dan
Medan. Tidak sedikitpun berpikiran kuliah ke pulau Jawa. Termasuk aku. Walaupun
aku punya impian menginjakkan kaki di pulau Jawa, namun aku tidak memiliki
keberanian untuk mengungkapkannya, hanya berdoa dalam hati dan berusaha sebaik
mungkin.
Menjelang UN, guru ku memanggilku
mengabarkan ada beasiswa untuk pendidikan sarjana. Namun setiap sekolah hanya
boleh mengirimkan satu wakilnya saja karena persaingan bukan hanya kecamatan,
namun se-kabupaten. Aku yang sempat mewakili sekolah dan kabupaten dalam
olimpiade Kimia provinsi Aceh mendapat kepercayaan untuk mengikuti seleksi
beasiswa itu. Sempat aku pesimis, bagaimana mungkin aku bisa mendapatkannya,
sementara harus bersaing ketat dengan banyak siswa-siswa cerdas lainnya dari
seluruh kecamatan yang ada di Aceh Timur. Namun, banyak yang memberiku
semangat, meyakinkanku bahwa aku bisa.
Pengumuman di koran itu yang menyadarkanku
bahwa impian akan terwujud dengan adanya keyakinan, usaha, doa. Aku termasuk
salah satu penerima beasiswa provinsi. Pihak beasiswa menjalin kerja sama
dengan beberapa perguruan tinggi terbaik Indonesia, diantaranya IPB (Institut
Pertanian Bogor) dan ITS (Intitut Teknologi Sepuluh November). Aku memutuskan
untuk memilih IPB.
Dokumentasi koran pengumuman J
Dan disinilah aku sekarang. Aku yang hanya
anak desa dari pelosok pedalaman Aceh Timur bisa menginjakkan kaki di salah
satu universitas terbaik kedua Indonesia (akreditasi 2013). Mengenyam
pendidikan hingga tidak terasa aku sudah tingkat ahir.
Kini aku percaya kekuatan impian, usaha
dan doa.
Jangan berhenti bermimpi,
Lets catch our dreams, J
Bogor, 17 November 2013
*di sela-sela hujan dan mencari topik
penelitian

Tidak ada komentar:
Posting Komentar