Sekolah ini menjadi rumahku sekarang
rasanya begitu asing. Awal-awal masa studi aku lalui dengan nangis
terus-menerus, bagaimana tidak? Aku tidak pernah tinggal berpisah dari keluarga
ku, dengan umur yang masih dikatakan relatif muda menjelang 12 tahun harus
hidup mendiri, berpisah dari keluarga walaupun hanya jarak beberapa kilometer
dari rumah tapi rasanya berat.
Minggu pertama dikunjungi aku menangis
hingga sesegukan dihadapan orang tua ku, aku memohon untuk dipindahkan dari
asrama yang serasa penjara bagiku, meskipun aku melihat dari sudut mata mamaku
ada air mata yang mungkin juga merasa berat melepaskan anak perempuan
satu-satunya, tapi beliau tetap bersikukuh untuk tidak memindahkanku dari
asrama.
Agustus 2004
Aku sakit. Entah karena aku yang tertekan
di asrama ini sehingga membuat aku jatuh sakit. Mama langsung panik ketika tau
aku sakit, dengan memohon-mohon kepada kepala asramanya agar aku diizinkan
dirawat di rumah. Awalnya kepala asrama tidak mengizinkan aku dirawat di rumah
dikarenakan fasilitas sekolah memadai untuk merawatku, tapi karena mama
bersikukuh akhirnya aku diizinkan pulang.
Yes. Aku gembira begitu mengetahui aku
diizinkan pulang dan menginap dirumah. Bayangkan selama 2 bulan aku tidak
pernah tidur lagi di rumahku sendiri, palingan kalau pulang hanya boleh dari
jam 9 pagi hingga 5 sore dan itu hanya 2minngu sekali. Begitu sampai di rumah
aku senang bukan main, aku bisa berkumpul bersama keluarga ku lagi, ditemani
adikku lagi, tidur bersama adikku lagi, menghabiskan waktu sore bersama
keluargaku lagi. Sungguh itu hal yang paling menyenangkan bagiku.
Tiga hari masa istirahatku berakhir, aku
sungguh-sungguh tidak ingin kembali lagi ke penjara itu. Lagi aku memohon
kepada ayah dan mama agar aku diizinkan pindah sekolah "Ma, Yah, kakak boleh
ya pindah sekolah, kakak ga betah disitu, kakak mau sama mama, ayah, adek aja
dirumah" aku memohon sambil terisak. Mama hanya menggeleng sambil
tersenyum. "Ayo berangkat, kakak kan harus sekolah lagi, nanti banyak
ketinggalan pelajaran" ajak ayah sambil memasukkan beberapa barang ke
mobil. Aku benar-benar merasa memang kedua orang tuaku tidak menyayangiku,
padahal aku sampai sakit-sakitan tetap saja mereka bersikeras aku harus tinggal
di asrama.
September 2004
Hari ulang tahunku jatuh pada hari Kamis,
sedangkan hari kunjungan keluarga masih minggu. Ulang tahun pertama tanpa
keluarga, yang biasanya kami rayakan bersama dengan acara makan kecil-kecilan
dan biasanya aku dapat berbagai hadiah dari ayah, mama dan adikku. Aku
merindukan rumah.
"Call to sister Rahmah Dara Ayunda
immediately to the reception phone"(maaf bahasa inggrisnya kacau). Aku
mendengar namaku dipanggil ke ruang penerimaan telepon segera beranjak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar