Kamis, 19 September 2013

Kenangan 4

Sempat terhenti menceritakan kisah ku karena sebenarnya menuliskannya penuh emosi :D
Tapi, aku ingin membagikan cerita ini untuk menjadi pelajaran buat teman-teman semua, bukan untuk dikasihani atau apapun. Semoga bermanfaat. :)

26 Desember 2004
Hari itu minggu. Hari dimana seluruh siswa bekerja sama gotong royong membersihkan segala sudut asrama, sekolah. Begitu pun aku dan beberapa temanku yang kebagian jatah membersihkan halaman depan asrama. Saat sedang mencabut rumput, temanku tiba-tiba berkata "Dara, koq aku pusing ya, kaya gempa". Aku yang belum merasakan getaran bumi tersebut hanya berkata "Perasaan kamu aja kali". Namun, tidak lama setelah berkata begitu aku juga merasakan gempa yang mengguncang bumi Aceh pagi itu.
Lantas semua orang tiba-tiba berseru panik dan lafadz tahlil kemudian terdengar dimana-mana. Aku yang baru pertama kali merasakan gempa sedahsyat itu langsung menangis. Aku takut melihat pepohonan yang nyaris seperti hendak tumbang. Aku takut meilhat tanah tempatku berpijak mulai terlihat retakan. Aku takut hari itu merupakan kiamat.
Diantara isakan tangis teman-teman, kalimat-kalimat tasbih, aku berdoa dalam hati "Ya Allah, lindungi keluarga ku, kalaupun hari ini memang kiamat, sempatkan ayah dan mamaku menyebut namaMu" hanya itu doaku, doa yang terus ku ulang-ulang hingga aku merasakan guncangan telah berhenti.
Aku merasa lega, bersyukur karena setelah kami menunggu beberapa saat semuanya tenang tidak terjadi apa-apa. Kami melanjutkan kembali aktivitas kami.
Lima belas menit kemudian, ternyata inilah puncak segala kuasa Allah ditunjukkan.
Orang-orang tiba-tiba ramai berlarian sambil berteriak "Air laut naik, air laut naik!! Lari dek, lari"..
Kami yang belum mengerti apa-apa panik berlarian memanggil para ustadzah.
Saat itu keadaan benar-benar kacau, siswa-siswi berlarian ke luar dari sekolah ikut berlarian bersama warga. Kami terpencar. Aku bersama teman sekaligus saudara ku ikut berlarian menuju daerah Beurawe. Kami melintasi jembatan yang dibawahnya mengalir sungai. Aku kaget melihat sungai tersebut telah penuh dengan segala barang, mobil, kayu, peralatan rumah tangga, dan macam-macamnya.
"Ya Allah" hanya itu yang bisa aku gumamkan. Aku hanya bisa membayangkan apa yang terjadi, tanpa mengetahui dengan pasti.
Kami berlari selama 2 jam menuju Aceh Besar, tanpa merasa lelah sedikitpun karena kepanikan dan ketakutan yang kami rasakan.
Tiba disebuah mesjid, kami berhenti karena melihat beberapa siswa sekolah kami. Posko-posko mulai dibangun untuk sementara.
Aku duduk disalah satu sudut mesjid. Aku menangis. Aku takut membayangkan yang terjadi dengan kedua orang tuaku dan adikku. Rumah ku tidak jauh dari pantai.
***
Gempa susulan itu masih terasa berpuluh-puluh kali sejak gempa dahsyat yang pertama kali. Kabar dari kota Banda Aceh yang diberi tau salah seorang penduduk daerah setempat bahwa kejadian tersebut memakan ribuan korban jiwa.
Mendengar kabar ini tangisku kembali tumpah, apa yang terjadi dengan orang tua ku?Adikku? Saluran telpon bahkan tidak bisa digunakan lagi.
Kami hanya bisa menunggu. Menunggu keadaan kembali normal.
***
"Sabar sayang, mama sama ayah Dara pasti lagi bersih-bersih rumah abis kebanjiran" Begitu kata salah seorang ustadzahku yang berusaha menenangkanku setelah seharian aku menangis tanpa henti. Masih belum ada kabar apapun dari keluarga ku, juga keluarga teman-temanku.
Setelah hampir satu hari kami mengungsi di mesjid, kepala sekolah ku datang. Beliau mengajak sekitar 30 murid yang baru kelas 1 SMP untuk ikut kerumahnya. Termasuk aku dan saudaraku, Nisa.
Rumah beliau bebas dari kejadian itu. Kami tidur berdesak-desakan, dalam keadaan gelap, karena listrik padam, disertai hujan dan masih gempa susulan.
Satu persatu teman-temanku dijemput. Hal itu membuat aku tambah bersedih. Mana mama? ayah? kenapa tidak menjemputku?
Hingga hari ketiga aku menunggu mereka belum datang. 
***
Hari keempat, Nisa dijemput oleh saudara dari pihak ibunya. Nisa memintaku ikut dengannya, dikarenakan memang rumah kami dekat. Aku masih ragu, karena takut ketika orang tuaku menjemput, mereka tidak menemukan ku. Namun, Nisa memaksa dan mengatakan nanti aku diantar ke rumah. Aku menurut karena aku tidak ingin tinggal lagi di rumah kepala sekolah ku seorang diri. Semua teman-teman telah dijemput keluarganya.
Setiba di rumah saudara Nisa, aku melihat ayah Nisa dan adik laki-lakinya yang di rawat dengan beberapa luka disekujur tubuh.
Aku bertanya pada ayah Nisa, mana mama nisa dan adik perempuannya. Ayah nisa hanya menangis.
Aku langsung merasakan sesuatu yang aneh. Aku bahkan tidak mengharapkan jawaban dari ayah Nisa lagi. Aku tau.
"Kak Dara, Am malam minggu sebelum kejadian nginap di rumah Kak Dara" ujar adik laki-laki Nisa yang memang sering bermain bersama adikku.
Aku langsung terlonjak, lantas memburu Am dengan banyak pertanyaan. "Terus Am berarti waktu kejadian ada sama mama, ayah ka Dara? Zaky gimana? Mereka mana? Kenapa ga datang?" Sambil menahan gejolak emosi aku bertanya.
"Am ga tau kak, sebelum gempa Am udah pulang, sampai di tengah jalan baru kerasa gempa, dan ga lama Am lihat ombak gede, Am ga tau apa-apa lagi", jawaban Am membuat hati ku semakin gelisah akan nasib kedua orang tuaku.
Allah, aku masih mengingat jelas saat-saat itu, hingga saat aku menuliskan ini.
***
Beberapa hari setelahnya, aku dijemput oleh kakak sepupu terdekat ku, Kak Inyak. Kak Inyak membawa ku ke Peureulak, tempat nenek. Tanpa ada yang menjelaskan nasib orang tuaku, aku sudah bisa menebak. Aku bahkan tidak bisa menangis lagi selama beberapa saat. Aku tidak merasakan apapun Hanya hampa. Bagaimana mungkin aku tidak bisa melihat orang-orang terkasihku lagi? Aku nyaris gila. Saat umurku masih 12 tahun, aku sudah kehilangan segalanya. Semua orang terkasihku. Aku sebatang kara.
***
Kejadian itu 9 tahun yang lalu. Banyak hal yang telah terlewati. Banyak perjalanan hidup yang aku tempuh sendiri. Sekarang aku bukan anak 12 tahun yang hampi gila itu. Aku sekarang menjadi seorang wanita yang kuat. Aku banyak mengambil pelajaran dari kehidupan ku. Bahwa segala yang telah ditakdirkan Allah untuk ku semuanya pasti memiliki hikmah. Aku sekarang ikhlas dengan segala garis kehidupan yang telah diatur Allah. Aku berharap, semoga dengan kisah ini, semua orang bisa dengan lapang hati menghadapi permasalahan hidupnya. Bukan hanya kita yang punya masalah, orang lain mungkin punya masalah yang lebih besar dari kita, namun mereka mampu melewatinya.
Seperti kata ayah "Kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak?"

End.
Bogor, 20 September 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar