Selasa, 17 September 2013

Untuk Ayah

Air mata itu terus mengalir deras. Dibawah tatapan ayah yang dengan sabar mengajariku matematika. Saat itu aku duduk di kelas 3 SD, dan aku sangat payah dalam hal pelajaran matematika. "Ayo coba lagi, ini ayah kasih 10 soal coba dikerjakan" Ujar ayahku menyerahkan buku tulis yang berisi soal-soal yang bagiku benar-benar menyusahkan. Aku dipaksa belajar oleh ayah selama hampir 3 jam di dalam kamar yang terkunci tanpa boleh keluar sebelum mengerti pelajaran ini. Aku yang kesal, jenuh, akhirnya tak kuasa menahan tangis. Bukan karena marah dikunci di kamar, tapi aku menyesali kenapa aku begitu sulit mengerti pelajaran ini. Ayah yang seolah tidak melihat bulir air mataku, dengan santai terus sabar mengajariku. Hingga sejam kemudian aku bisa tersenyum dan dengan mantap mengerjakan soal-soal lebih sulit yang diberikan ayah berikutnya. Akhirnya aku mengerti. Dan terlihat kebanggan di mata ayah.
***
Pagi itu, seperti biasa adalah tugas ayah yang membangunkan aku dan adikku untuk bersiap-siap berangkat sekolah. "Hei anak ayah yang pemalas, ayoo bangun, sekolah" ayah menciumi kami dan jahil menggelitik kaki kami. Aku menggeliat dan sengaja tidur lagi, mengisengi ayah agar lebih lama membangunkan kami. "Adek ga mau bangun kalo ga digendong" seru adik ku yang masih bertahan di tempat tidur. Ayah juga seperti biasa langsung menggendong adikku dan membawanya ke kamar mandi agar adikku segera mandi. "Kakak juga mau digendong" ujarku merengut karena cemburu melihat ayah menggendong adikku. "Kalo kakak yang digendong, ga lama lagi ayah bungkuk", dengan tertawa ayah menjawabku. 
***
"Ayah, nanti kalo uda gede, kakak mau kuliah ke Amerika" saat itu aku sedang membolak balik halaman sebuah majalah yang memuat tentang negeri Paman Sam tersebut. "Adek juga yah, adek mau kuliah ke luar negeri", adikku tidak mau kalah menyambung. "Adik mau ke luar negeri mau kemana?" Ayah bertanya dengan antusias. "Adek mau ke India" jawabnya dengan polos. Ayah hanya tertawa mendengar jawaban itu, "Kalo kalian rajin belajar, kemanapun kalian mau pasti bisa" ayah mengingatkan kami. Itulah ayah, selalu memotivasi kami.
***
"Ayah, kakak kangen" saat ayah menelepon untuk mengabarkan bahwa ayah telah sampai di Jakarta karena selama 2 bulan akan menyelesaikan beberapa tugas kantor. "Adek juga, nanti ayah pulang bawa oleh-oleh ya" Adikku malah langsung menodong oleh-oleh bahkan disaat baru hari pertama keberangkatan ayah. "Tapi ayah koq ga kangen ya" ayah dengan jail menjawab kami sambil tertawa. Aku yang mendengarnya langsung sedih, meskipun tau perkataan ayah hanya bercanda. Kami jarang terpisah lama. Ayah selalu ada buat kami.
***
Aku terus menunduk. Ayah hanya diam tanpa berkata apa-apa dan terus menatapku saat aku tidak menjawab pertanyaannya "Kenapa kakak mau main ga bilang?". Aku bahkan tidak berani sekalipun mengangkat kepala untuk menatap ayah dan menjawabnya. Itu kali pertama aku melihat ayah marah. Ayah marah karena aku pulang sekolah tidak langsung pulang dan bermain dirumah temanku hingga hampir maghrib. Ketika pulang mama langsung memarahiku dengan omelan-omelan panjang dan nyaris mencubitku, tapi dilarang oleh ayah. "Ga boleh mendidik anak dengan pukulan" begitu komentar ayah pada mama. Namun, tatapan ayah lebih menyeramkan dari pukulan itu sendiri. Aku berjanji sejak saat itu tidak membuat ayah marah lagi.
***
Ahh, sangat banyak kenangan-kenangan yang terlintas di kepala ku tentang ayah. 
Ayah yang sangat mencintai keluarganya, bahkan sesibuk apapun ayah tetap menyempatkan waktu buat kami, secapek apapun ayah tetap sabar mendengar ocehan-ocehan kami.
Ayah yang bukan tipe pendidik dengan kekerasan, namun tegas. Bahkan tak sekalipun ayah pernah memukul kami, hanya dengan tatapan membuat kami segan melakukan kesalahan hingga membuatnya marah.
Ayah mendidik kami menjadi anak yang mandiri, tidak manja.
Ayah yang tidak segan mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus kami anak-anaknya ditengah segala kesibukannya.
Ayah yang selalu menyediakan hari liburnya untuk mengajak kami jalan-jalan, mengenal lingkungan dan alam.
Ayah.. Dia ayah kami, ayah terhebat yang pernah ada.
Meskipun hanya 12 tahun aku merasakan hidup bersama ayah bahkan tidak mengurangi rasa cinta dan hormatku pada ayah. Aku menyayanginya. Sangat menyayangi ayah.


Hari ini tepat dimana hari kelahiran ayah, 17 September.
Aku hanya bisa mengirimkan doa untuk ayah,
Semoga ayah disana tenang, ditempatkan di sisi-Nya.
Untuk ayah, semoga kelak kita bisa berkumpul lagi, bersama, selamanya.

Bogor, 17 September 2013
*Putri mu, Ayah :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar