Minggu, 01 September 2013

Pecinta Cermin

Kalau mendengar kata cermin, bukankah identik dengan wanita?? Ya, wanita sangat mencintai cermin, dimana ada cermin disitu ada wanita. Begitulah istilahnya.
Contohnya saja aku memiliki seorang teman yang sangat tergila-gila dengan cermin, sehingga jika kamu membutuhkan dia cukup acungkan saja cermin, dan dengan sendirinya dia akan mendekat. Itu berlebihan sebenarnya, tapi memang begitu adanya.
Temanku yang lain tidak jauh berbeda, kemanapun pergi dengannya, jika ada benda yang dapat memantulkan bayangan, maka dia akan berhenti sejenak. Aku pernah hampir terlambat mengikuti sebuah seminar di kampusku saat pergi dengannya. Setiap ada kaca jendela, kaca pintu, maka setiap itu dia akan berhenti.

Berbeda denganku, aku membenci cermin. Tidak. Tidak sepenuhnya membenci cermin, hanya saja aku tidak menyukai cermin.
Mengapa bisa begitu? Aku sebelumnya akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu.

Namaku Salsabila Karisya. Bagus bukan? Ya, semua orang yang mendengar namaku pasti membayangkan akan melihat sosok seorang gadis yang anggun, jelita, lemah lembut dan bersahaja. Simpan saja bayangan itu. Lanjut perkenalan tentangku. Aku seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri yang berbeda dari kota kelahiranku. Saat ini aku telah menyelesaikan 6 semester di kampusku itu. Aku menyukai mesin, sehingga aku mengambil jurusan teknik mesin. Bisa kalian bayangkan orang yang mempunyai nama indah tersebut bekerja dengan berbagai macam mesin? Kali ini mungkin bayangan tentang keanggunan, kelemahembutan ku semakin berkurang. Tetap simpan saja bayangan itu. Aku anak terkahir dari tiga bersaudara. Saudara-saudaraku semuanya lelaki, kakakku yang pertama sudah menikah dan tinggal jauh dari orang tuaku, kakakku yang kedua bekerja di sebuah perusahaan di kota kelahiranku. Bisa bayangkan? Aku hidup diantara dua saudara lelakiku? Silahkan tambah saja bayangan kalian tentang diriku.
Karena aku kuliah di kota yang berbeda dari kedua orang tuaku, maka aku menyewa sebuah kamar di sekitaran kampusku. Kamar inilah menjadi tempat favoritku. Aku termasuk orang yang susah bergaul dengan orang, sehingga aku lebih menyukai kesendirianku, menghabiskan berjam-jam untuk membaca novel kesukaanku, menonton film-film favoriku, daripada harus berkumpul dengan orang-orang sekitarku. Mungkin cukup perkenalan yang jika dilanjutkan tidak ada juga hal-hal menarik yang bisa aku ceritakan.

Kembali ke cermin. Aku tidak mengerti kenapa wanita begitu menggilai cermin. Entah aku yang aneh, atau mereka yang menurutku aneh. Tergantung sudut pandang masing-masing.

Tidak semua cermin aku hindari, aku hanya menghindari cermin yang dengan jelas memantulkan bayangan wajahku, tapi sesekali aku bercermin pada kaca-kaca yang dapat memantulkan dengan samar bayangan diriku.
Seperti, ketika sedang berjalan aku melewati sebuah mobil yang memiliki kaca berwarna hitam, aku berhenti sejenak melihat tampilan diriku. Saat aku melintasi etalase-etalase toko aku sejenak bercermin. Hanya itu. Bahkan aku hanya mempunyai sebuah cermin kecil di kamar kosanku dan itupun aku pakai ketika saat-saat yang benar dibutuhkan. Selebihnya cermin itu akan tersimpan rapi di laci meja belajarku.


Mungkin alasanku membenci cermin cukup bisa diterima sebagai alasan yang paling klise. Aku tidak memiliki wajah yang cantik, wajahku sangat dibawah standar, begitu lah kataku. Hidung ku pesek, kulitku hitam, aku mempunyai bibir yang asimetris menurutku, kulit wajahku penuh dengan bintilan-bintilan yang disebut jerawat, dan jika aku sebutkan kekurangan-kekurangan lainnya maka kalian bisa membayangkan seorang alien. Yaa, itu alasan yang selama ini aku simpan rapat-rapat di dalam hatiku yang paling dalam. Cukup hanya aku yang tau. Bisa dibilang aku tidak bersyukur dengan semua yang aku miliki.

Suatu ketika, aku menjalani KKN di sebuah daerah terpencil di kota aku menempuh pendidikan tinggiku. Disana aku bertemu seorang gadis kecil, yang aku tidak sanggup melukiskan dengan kata-kata kondisinya. Dia cacat fisik, bahkan jika aku menggambarkan diriku alien, dia merupakan alien teraneh yang pernah aku liat. Namun, satu hal yang tidak aku lihat dari dirinya jika dibandingkan dengan diriku, dia tidak mengeluh dengan kondisinya. Dia begitu bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Aku membayangkan jika menjadi dirinya, aku akan meringkuk di rumah dan tidak ingin bertemu satu orang pun. Tapi tidak begitu dengan gadis kecil ini, dia begitu periang, memiliki banyak teman, senang membantu orang, dan cacat fisiknya sama sekali bukan masalah untuk dipandang, dia bahkan terlihat sangat cantik dengan kondisinya yang seperti itu.

Aku begitu merasa malu dengan diriku, aku yang sudah kuliah semester 6 menjelang 7 bahkan tidak bisa berbesar hati seperti gadis kecil berusia 10 tahun itu. Aku yang bahkan sebenarnya memiliki fisik yang tidak jelek, masih dalam kategori standar, masih belum bisa bersyukur.
Sungguh mulai saat itu aku tidak lagi membenci cermin. Tidak lagi menghindari cermin.
Aku menjadi pecinta cermin, bukan untuk merias diri seperti wanita lain. Namun untuk bersyukur atas apa yang diberikan Allah atas diriku.
Setiap melihat cermin, aku melihat begitu banyak nikmat Allah yang telah diberikan dalam kehidupanku. Setiap melihat cermin aku melihat bahwa masih banyak orang-orang lain yang kurang dari ku, namun mereka bisa bersyukur. Maka kenapa aku tidak??

Bogor, 1 September 2013
*Inspirasi dadakan :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar