Kamis, 12 Desember 2013

Kisah Sebuah Mainan

Mainan. Itulah aku. Aku bisa menghibur orang-orang disekitarku, orang-orang banyak yang menyukaiku. 
Aku sebuah mainan. Orang-orang terkadang jatuh hati padaku, tertarik denganku saat pertama melihatku, mereka bahkan sangat mengangumiku sehingga merawatku dengan baik.
Aku sebuah mainan. Tempat menampung semua kebosanan, kesedihan, terkadang aku bahkan menjadi tempat pelampiasan amarah bagi pemilikku.
Aku hanya sebuah mainan. Orang-orang menganggapku tidak memiliki perasaan sehingga mereka dengan seenaknya saja datang padaku ketika butuh dan meninggalkanku ketika mereka tak butuh aku.
Ya. Aku memang hanya mainan. Sesayang apapun orang itu padaku, suatu saat tetap saja dia akan meninggalkanku dan kembali pada dunia nyatanya dimana bisa memberinya kesenangan yang nyata.

Tapi tahukah mereka? Aku bahkan tidak berharap diciptakan menjadi mainan. Mereka yang menciptakanku hanya bagi kesenangan mereka. Ketika mereka telah bosan dengan ku, mereka meninggalkan ku, membuangku seakan aku tak pernah berarti bagi mereka. Saat aku mulai usang, mulai membuat mereka bosan, mereka akan menciptakan mainan baru yang lebih bisa menghibur mereka.
 Pernahkah mereka berpikir bagaimana perasaanku? Jelas tidak, karena mereka menciptakanku tanpa perasaan. Namun, tumbuh perasaan dalam diriku seiring dengan waktu yang kuhabiskan dengan mereka.
Pernahkah aku menuntut pada mereka atas apa yang mereka lakukan padaku selama ini? Pernahkah aku meminta mereka menjadikanku nyata? 

Tidak. Karena aku memang hanya tercipta sebagai sebuah MAINAN.

*Bogor, 12 Desember 2013

Minggu, 17 November 2013

Para Pemaaf

"Saudariku.. Pernahkah ada seorang yang melukaimu, menuduhmu atas suatu hal yang tidak anda lakukan ? Memanggilmu dengan sebutan yang tidak layak dilontarkan, mengatakan hal – hal yang sangat tidak pantas diucapkan kepada sesama muslimah… Mungkin dia adalah keluarga dekatmu, mungkin dia adalah temanmu, atau bahkan keluarga dari calon pendampingmu… :)


Jangan bersedih ! Tidak hanya anda yang mengalaminya, saya pun pernah mengalaminya.. Duhai saudariku… Tidak semua orang mampu memahami kesalahan yang telah dilakukannya, tidak semua orang mampu menerima kesalahan, dan tidak semua orang mampu meminta maaf kepada anda, meskipun dia sudah menyadari kesalahannya…


Duhai saudariku… Lepaskan keegoisanmu agar cahaya iman masuk kedalam nuranimu, maafkanlah mereka dengan tulus…. Jangan menunggu permintaan maaf mereka kepadamu!... Saudariku… apakah masih ingat dengan kisah Rasululloh SAW berikut ini :


” Suat saat ketika Rasulullah SAW sedang duduk – duduk bersama sahabatnya, Rasulullah SAW bersabda, “Sebentar lagi,salah satu ahli surga akan muncul di hadapan kalian.” Tak lama, seorang laki-laki dari kaum Anshar muncul dengan sisa air wudhu masih menetes dari janggutnya. Ia menenteng terompah di tangan kirinya.

Hari berikutnya, Rasulullah SAW mengulang perkataannya dan orang itu kembali melintas seperti pada kali pertama. Di hari ketiga, Rasulullah SAW mengulang perkataannya, dan kejadian itu kembaliterulang.

Mendengar ucapan Rasulullah SAW, Abdullah bin Amr mengikuti lelaki yang dimaksud Rasulullah SAW lalu berkata kepadanya, “Aku bertengkar dengan ayahku, aku tidak akan menemuinya tiga hari, apakah engkau berkenan memberiku tempat menginap?” lelaki itu menjawab, “Silahkan, dengan senang hati.”

Abdullah bin Amr pun menginap di rumah lelaki itu hingga tiga malam berlalu dan Abdullah belum melihat dari laki-laki itu melakukan amal yang disebut sebagai penghuni surga. Sehingga Abdullah memberanikan diri bertanya, “Sudah tiga hari disini, aku tidak melihatmu mengerjakan amal yang membanggakan. Mengapa Rasul menyebutmu sebagai salah satu calon penghuni surga?”.

Lelaki itu menjawab, “Aku memang tidak melakukan amalan-amalan yang istimewa, tetapi sebelum tidur, aku mengingat kesalahan-kesalahan saudaraku seiman, lalu aku berusaha untuk memaafkannya. Aku hilangkan rasa dengki dan iri terhadap karunia Allah yang diberikan kepada saudaraku.”

Setelah mendengar itu, Abdullah berkata, “Ya,itulah yang menyebabkan engkau disebut sebagai calon penghuni surga.”

Subhanallah ! Begitu dahsyatnya efek memaafkan,saudariku… Semoga Allah menjadikan kita para pemaaf, yang mampu membalas keburukan dengan kebaikan…


Semoga Bermanfaat.. :)" 
— Nuci Priatni
sumber: Goodreads

Iseng-iseng kepo-in Goodreads, menemukan tulisan ini..
Padahal pernah beberapa kali membaca atau mendengar kisah sahabat Rasulullah SAW tersebut, hanya belum terlalu memaknai intinya. Sekarang setelah lebih mengerti arti memaafkan, maka sungguh ada rasa lapang atas segala kejadian.
Semoga kita semua menjadi para pemaaf, dan menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin

#edisi memperbaiki diri :)

Panggilannya "Buaya"

Menghadapi yang namanya anak kecil memang sungguh penuh dengan kejutan, kelucuan, kekonyolan yang kadang tidak terpikirkan oleh orang dewasa.
Karena itu aku sangat menyukai anak kecil >,<

Salah satunya Zaky, nama aslinya Muhammad Zaid Al-Ghifari, ntah darimana panggilan Zaky itu berasal (apa karena aku ya? Nama adik ku dulu Zaky :D). Zaky itu anak sodara sekaligus tetanggaku, dia adiknya sahabatku Nela. Saat itu dia berumur 3 tahun dan sangat sering main ke rumahku, bahkan suka tidur siang di rumah, main hingga kadang tidak mau pulang ke rumahnya sendiri. Dia sangat dekat denganku.
Ini dia si kecil Zaky (tapi ini foto uda gede -_-)

Suatu siang, sebelum tidur siang biasanya aku membacakan majalah Bobo-ku (sampai SMA aku masih suka Bobo lohhh, ups :x). Saat itu Zaky membolak-balik sendiri halaman majalah Bobo, hingga berhenti di sebuah artikel yang membahas pulau komodo. Artikel tersebut menampilkan gambar komodo. Aku yang kemudian melihat Zaky terhenti di halaman tersebut bertanya

"Dek, ini gambar apa?" sambil menunjuk salah satu gambar komodo

"Buaya" jawab Zaky polos

"Eh, bukan ini itu namanya Komodo" kataku meralat

Kemudian Zaky menjawab dengan sok tau dan seperti mengguruiku "Iya kak Dara, ini itu namanya Komodo, tapi panggilannya Buaya"...

#nah loh?
&%^%%$$@@??!!

Ini dia jagoan-jagoanku Zaky dan adiknya Faris, miss them so much :')



Kekuatan Impian

Hujan siang ini tiba-tiba mengingatkan ku tentang perjalanan hidup yang telah aku lalui sejauh ini. 
Bagaimana aku bisa berada disini? Berada di tempat yang bahkan terbersit dalam pikiran pun tak pernah. 
Tapi inilah kuasa Allah, Allah telah mentakdirkan aku ada disini, maka terjadilah.

Namaku Rahmah Dara Ayunda, aku dulunya tinggal di kota Banda Aceh hingga kelas 1 SMP, namun karena suatu kejadian, aku pindah ke sebuah daerah di Aceh Timur, tepatnya di dusun Pasir Putih Kecamatan Peureulak. Coba saja cari di peta, mungkin kalian akan menemukannya walaupun sangat kecil dan nyaris tak terlihat. 

Kehidupan awal ku di Peureulak tidak terlalu menyenangkan. Aku memutuskan meneruskan bersekolah di MTsN Peureulak, dengan pertimbangan sekolahku sebelumnya merupakan Tsanawiyah, jadi sebaiknya aku melanjutkan ke Tsanawiyah juga. 
Pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah baruku, aku sempat terpana, melihat kelas yang rasanya hampir ambruk, dindingnya berupa papan yang sudah bolong di beberaa bagian, papan tulis yang sudah tak bisa digunakan lagi sebagian besar permukaannya, meja dan kursi yang bahkan hampir patah, atap yang jika hujan deras dapat membuat kelas basah. Inikah sekolah baruku? Sungguh bagi anak baru berumur 12 tahun sepertiku, yang sebelumnya bisa belajar di gedung yang nyaman dengan fasilitas yang lengkap ini merupakan hal tak menyenangkan.

Selanjutnya aku melanjutkan pendidikan di SMA N 1 Peureulak, merupakan salah satu sekolah favorit di daerahku. Namun, tetap saja kami yang berada jauh dari perkotaan tidak berani bermimpi yang tinggi. Saat kelas 12, memutuskan kuliah pun hanya sekitaran Banda Aceh dan Medan. Tidak sedikitpun berpikiran kuliah ke pulau Jawa. Termasuk aku. Walaupun aku punya impian menginjakkan kaki di pulau Jawa, namun aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya, hanya berdoa dalam hati dan berusaha sebaik mungkin.

Menjelang UN, guru ku memanggilku mengabarkan ada beasiswa untuk pendidikan sarjana. Namun setiap sekolah hanya boleh mengirimkan satu wakilnya saja karena persaingan bukan hanya kecamatan, namun se-kabupaten. Aku yang sempat mewakili sekolah dan kabupaten dalam olimpiade Kimia provinsi Aceh mendapat kepercayaan untuk mengikuti seleksi beasiswa itu. Sempat aku pesimis, bagaimana mungkin aku bisa mendapatkannya, sementara harus bersaing ketat dengan banyak siswa-siswa cerdas lainnya dari seluruh kecamatan yang ada di Aceh Timur. Namun, banyak yang memberiku semangat, meyakinkanku bahwa aku bisa.

Pengumuman di koran itu yang menyadarkanku bahwa impian akan terwujud dengan adanya keyakinan, usaha, doa. Aku termasuk salah satu penerima beasiswa provinsi. Pihak beasiswa menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi terbaik Indonesia, diantaranya IPB (Institut Pertanian Bogor) dan ITS (Intitut Teknologi Sepuluh November). Aku memutuskan untuk memilih IPB.

Dokumentasi koran pengumuman J

Dan disinilah aku sekarang. Aku yang hanya anak desa dari pelosok pedalaman Aceh Timur bisa menginjakkan kaki di salah satu universitas terbaik kedua Indonesia (akreditasi 2013). Mengenyam pendidikan hingga tidak terasa aku sudah tingkat ahir.
Kini aku percaya kekuatan impian, usaha dan doa.

Jangan berhenti bermimpi,
Lets catch our dreams, J

Bogor, 17 November 2013
*di sela-sela hujan dan mencari topik penelitian 

Rabu, 09 Oktober 2013

Sahabatku, Elia Morina

Jalan hidup seseorang memang selalu berbeda.
Ada hal-hal yang menyenangkan bagi mereka yang beruntung berada di jalan lurus,
Dan tidak sedikit hal-hal yang menyakitkan bagi mereka yang harus berada di jalan yang terjal.
Itu lah kehidupan, namun bagaimanapun jalannya, kita menuju akhir yang sama bukan? Tergantung orang-orang yang melewati jalan tersebut yang menganggap jalan lurus itu bahagia atau malah membosankan, dan jalan terjal itu menyakitkan atau malah menjadi tantangan.

Ini kisah salah satu sahabatku, yang harus melewati jalan terjal itu. Namun lihat lah, sungguh jalan terjal itu bukan menyakitkannya, malah menjadikannya lihai dalam menyiasati jalan terjal tersebut.

Elia Morina namanya.

Aku baru mengenalnya saat aku menginjak kelas 2 SMP. Saat itu aku baru pindah dari Banda Aceh ke Aceh Timur. Ya, aku mengenalnya hanya sebatas "tau", aku tau namanya. Aku selalu melihatnya setiap sore melewati rumahku bersepeda dengan rambut kriwilnya yang lucu. Apa yang dilakukannya setiap sore? Yang aku lihat dia setiap sore hanya bermain. Bermain sepeda. Namun, aku keliru, dia bukan bermain seperti yang aku lihat sebenarnya.

Selanjutnya, perkenalan ku berlanjut ketika dia menjadi santri baru di tempat aku mengaji. Aku baru tau namanya adalah Elia Morina, Lia panggilannya. Ya, hanya tau namanya, dan kami bahkan belum pernah mengobrol langsung. Dia terlihat seperti anak-anak lainnya, tidak ada yang spesial. Namun, aku keliru, dia spesial, bukan seperti yang aku lihat sebenarnya.

Butuh waktu yang tidak singkat aku akhirnya bisa berteman dengannya. Aku lupa bagaimana terjadinya, hingga kami bersahabat. Dia teman yang sangat menyenangkan. Senang membantu tanpa pamrih. Selalu ceria seperti tidak memiliki beban hidup. Dan aku keliru lagi tentang ini, hidupnya tidak mudah. Karena inilah kenapa aku mengatakannya spesial.
***
Lia hanya hidup berdua dengan mamanya, ayah mamanya bercerai saat Lia kecil.
Mama Lia bekerja membuat kue untuk dijualkan di warung-warung kopi. Dan aku baru tau kenapa Lia setiap sore lewat bersepeda depan rumahku. Ya, untuk mengambil uang hasil penjualan mamanya. Terkadang hingga larut malam dia membantu mamanya membuat kue. Tapi, dia sama sekali tidak pernah mengeluh, bahkan aku melihatnya senang melakukan itu semua.
Lia bukan anak manja dan banyak maunya, dia sangat mengerti kesusahan mamanya, dia selalu menahan keinginan2nya, aku bahkan bisa melihat dimatanya terkadang ketika dia menginginkan sesuatu namun dia harus menahannya.
***
Kesedihan terlihat dimatanya ketika kami lulus SMA. Aku tau, dia sangat ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, namun terhambat biaya.
"Nanti Lia juga kuliah kayak kalian" begitu ujarnya dengan bangga. Ahh, temanku ini memiliki cita-cita yang tinggi, meskipun belum mendapat kesempatan untuk mewujudkannya. Lantas aku yang telah berkesempatan, apakah akan menyia-nyiakannya? 

Saat tahun pertama kami mulai memasuki dunia perkuliahan. Lia juga mulai mencari pekerjaan. Dia bekerja untuk mengumpulkan biaya kuliahnya, dia bertekad ingkin kuliah di tahun selanjutnya. Bekerja hingga larut malam. Tapi inilah mengapa aku mengatakannya spesial. Dia selalu terlihat bahagia menjalani hidupnya. Jarang aku melihatnya bersedih. Dia seorang yang hebat.
***
"Dara, Lia bingung mau ambil jurusan apa nanti, bagusnya apa ya?" Sebuah sms singkat darinya membuat aku terharu. Dia akhirnya bisa melanjutkan cita-citanya. Lihat kekuasaan Allah, mendengar doa hamba-hambaNya yang berusaha tanpa lelah.
Aku langsung membantunya memilih pertimbangan-pertimbangan untuk masa depannya. Hmm, Lia, sungguh teman yang spesial.
***
"Dar, kirimin no mama Lia" suatu ketika sms dari sebuah no tak ku kenal yang ternyata Lia. Ini salah satu kekonyolannya. Dia cuma bisa menghafal no hp ku. Bahkan no hp mamanya sekalipun dia tidak hafal. Ntah aku harus bangga karena merasa dia menganggapku orang terdekatnya, ntah harus tertawa karena ini aneh. Hahaha, Lia, Lia.
***
"Dar, lia kangen ayah Dar, sebenci apapun Lia sama ayah, Lia tetap mau berbakti sama ayah Dar" begitu isi pesan singkat yang Lia kirim padaku suatu saat. Aku terhenyuk membacanya. Lia masih begitu menyayangi ayahnya, meskipun ayahnya terkesan tidak peduli padanya.

Ayah Lia sudah menikah lagi dan tinggal dengan istri barunya. Jarang ayah Lia menjenguk Lia, bahkan memperhatikannya. Namun Lia selalu mengingat ayahnya, khawatir akan ayahnya. Dia sungguh berhati mulia.
Aku saja tidak bakal bisa seperti dia. Mungkin jika aku jadi Lia, aku akan membenci ayahku dan seluruh keluarga barunya. Bahkan aku tidak akan peduli lagi.
Tidak, Lia bukan aku. Dia lebih baik dari aku. Dia selalu datang mengunjungi ayahnya, mengunjungi keluarga baru ayahnya, dan menyayangi adik-adik barunya seperti adiknya sendiri.
Itu lah Lia sahabatku.
***
Aku sungguh beruntung bertemu dengan orang-orang seperti Lia, banyak pelajaran yang bisa aku ambil darinya. Sahabat-sahabat seperti Lia inilah yang membantuku tetap bisa bertahan seperti sekarang diantara tumpukan-tumpukan cobaan hidup. 

Selamat ulang tahun yang ke-21 Lia,
Semoga tetap bisa menjadi Lia yang ceria, semangat, tidak mudah mengeluh, jadi anak yang berbakti, jadi wanita yang tegar kuat tangguh dan solehah, jadi sahabat kami yang baik.
Lia salah satu orang spesial dalam hidup Dara, Terima kasih telah memberi Dara pelajaran-pelajaran berharga ini.
Really love you :*


Bogor, 10 Oktober 2013.


Surat untuk Mama

Bogor, 10 Oktober 2013

Teruntuk Mama tersayang
di Sebuah tempat terbaik disana :)

Assalamualaikum wr wb Mama,
Apa kabar Mama disana? Kakak harap Mama baik-baik saja, kakak harap Mama senang dengan tempat baru Mama disana, kakak harap nanti bisa menyusul dan bertemu Mama di tempat itu..
Mama, banyak sekali hal-hal yang ingin kakak ceritakan langsung sama Mama selama 9 tahun setelah perpisahan kita, banyaaaakk sekali,, tapi kakak hanya bisa menceritakannya setiap selesai sholat melalui doa, semoga sampai ke Mama :)

Mama, hari ini hari spesial Mama, ingatkah 9 tahun yang lalu tepat pada tanggal ini? Kita merayakannya bersama, di bawah pohon asrama tempat kakak sekolah dulu. Saat itu kakak dan adek memberi sesuatu yang bahkan ga spesial dibandingkan dengan apa yang udah Mama beri buat kami. Tapi sore itu Mama meneteskan air mata terharu mendapat kado dari kami. Pasti Mama ingat :D
Sungguh Ma, melihat senyuman Mama itu merupakan kebahagiaan terbesar yang ada di dunia ini.
Mama, di hari spesial Mama ini, kakak ga punya sesuatu yang bisa diberikan lagi Ma, kakak cuma bisa mengirimkan doa-doa, dan semoga doa-doa itu bisa membuat Mama tersenyum disana.

Mama, kakak disini sangat merindukan Mama, kakak  disini sangat ingin melihat wajah Mama lagi, merasakan pelukan hangat Mama lagi, mencium wangi khas Mama lagi, Mama merindukan kakak juga bukan?
Tapi, Mama ga usah khawatir, ga usah sedih, kakak ga pernah sekalipun menyesal atas apa yang terjadi Ma. Kakak ikhlas kita harus berpisah kalau ini menjadi batu loncatan buat kakak lebih baik lagi, buat kakak bisa bertemu Mama kelak disana, buat kakak bisa berkumpul lagi bersama Mama, Ayah, Adik disana. Kakak ikhlas Ma,
Gadis kecil Mama dulu kalau Mama lihat, sekarang sudah menjadi seorang wanita yang beranjak dewasa. Ahh Mama pasti melihatnya, :)
Semoga bisa menjadi wanita hebat seperti Mama,

Terima kasih telah menjadi Mama yang hebat yang mengajarkan kakak hingga kakak bisa seperti sekarang, kakak ga bakal bisa berdiri tegar kalau bukan Mama yang mengajarkannya, kakak ga bakal bisa mandiri kalau bukan Mama yang menanamkannya, kakak ga bakal bisa ikhlas kalau bukan Mama yang mendidiknya. Mama adalah sumber segala kekuatan kakak bisa seperti sekarang,
"Terima kasih Ya Allah menjadikan wanita ini ibu ku, terima kasih Ya Allah atas segala ilmu yang Kau berikan kepadaku melalui wanita ini"
Kakak sayang Mama karena Allah :').

Mama, kakak minta maaf kalau belum bisa menjadi putri yang baik buat Mama, kakak masih sering mengecewakan Mama, maafkan kakak,,
Mama, kakak akan berusaha Ma, menjadi putri terbaik Mama, kakak akan berusaha terus membuat Mama bangga disana. Kakak hanya ingin melihat Mama tersenyum. Hanya itu.

Mama, Selamat ulang tahun meskipun ga ada lagi tahun yang Mama lewati,
Semoga sehat selalu, meskipun ga ada lagi penyakit yang Mama derita,
Semoga panjang umur, meskipun umur Mama sudah terhenti.
Mama adalah Mama terbaik yang ada di dunia ini.

Moga Mama disana disayang Allah, seperti Mama menyayangi kami anak-anak Mama, bahkan semoga Mama lebih disayang Allah :)

Salam sayang putri mu
:))

Senin, 30 September 2013

Petani, Pohon dan Benih.

Aku akan menceritakan sebuah kisah. Kisah antara sebatang pohon, seorang petani, dan sebuah benih.

Ada seorang petani yang memiliki sebatang pohon yang tumbuh di pekarangan rumahnya. Pohon itu dirawatnya sekian lama hingga menghasilkan buah yang banyak. Petani itu sangat menyayangi pohon tersebut. Merawatnya dengan setulus hati, sepenuh hatinya, menghabiskan banyak waktu untuk duduk dibawah sandaran pohon tersebut, bercerita kepada pohon tersebut tentang banyak hal, berteduh dibawah rimbunan daun pohon tersebut. Hidup petani itu sangat bahagia. 
Begitu pula dengan sang pohon. Pohon itu juga begitu senang memiliki seorang yang merawatnya seperti sang petani. Pohon itu berusaha memberikan buah terbaiknya untuk menyenangkan hati petani tersebut, menyediakan batangnya untuk sandaran petani itu, menyuburkan daunnya sebagai tempat berteduh sang petani. Hidup pohon itu juga sangat bahagia.

Hingga suatu hari, ketika pohon tersebut tiba-tiba tidak menghasilkan buah lagi, daunnya semakin berguguran. Ntah apa yang terjadi, bahkan pohon dan petani tersebut tidak mengerti, mengapa sang pohon tidak berbuah lagi, tidak dapat menjadi tempat berteduh lagi? Tak ada yang bisa menjawabnya. Disinilah masalah muncul. Petani mulai merasa pohon itu tidak bisa memberikan lagi buah untuknya, tidak bisa lagi memberikan keteduhan untuknya, tidak bisa memberikan kenyamanan yang dibutuhkan petani itu lagi. 
Petani mulai tidak memperhatikan lagi pohon tercintanya. 

Apa yang terjadi pada pohon? Tentu saja pohon itu sangat bersedih. Bagaimana tidak? Kebahagiaan bersama sang petaninya lewat sudah. Pohon itu bahkan tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Sang pohon hanya bisa menatap petani dari kejauhan. Petani bahkan tidak singgah lagi di bawah batangnya hanya untuk melihat pohon itu. Petani hanya duduk diam dirumahnya sambil memandangi daun pohon yang terus berguguran.

Suatu ketika disinilah kesedihan pohon semakin menjadi-jadi. Petani membeli sebuah benih yang baru. Terlihat wajah bercahaya petani ketika membawa pulang sang benih tersebut. Petani mencoba menanam benih tepat bersebrangan dengan sang pohon. Apa yang diharapkan petani dari benih kecil yang dibawanya? Ntah lah, mengharap benih bisa tumbuh seperti pohon hingga bisa memberikan kebahagiaan yang baru bagi petani? Tak ada juga yang tau. Baik sang benih, sang petani dan sang pohon.

Sang benih kecil yang bahkan tidak mengerti mengapa petani membawanya ke rumah. Tak ada penjelasan dari petani. Petani hanya terus berusaha merawat benih kecil itu dengan semangat. Benih yang awalnya tidak berniat untuk tumbuh karena merasa asing dengan petani, maka ketika kasih sayang, kelembutan diberikan secara terus menerus, benih itu tidak bisa menahan dirinya untuk tumbuh. Ya, benih itu tumbuh. Dan benih itu juga tidak memungkiri ada rasa bahagia yang didapatnya dari petani. Benih sama sekali tidak tahu apapun terkait sang pohon diseberang sana yang menatap sedih melihat petani hanya merawat benih tersebut. Jika saja benih tau, maka sungguh benih menyesal membiarkan dirinya tumbuh dengan kasih sayang dari sang petani.

"Musim hujan akan datang, aku tidak akan bisa sering mengunjungimu, merawatmu lagi" itu yang dikatakan petani sebelum akhirnya petani pergi meninggalkan benih suatu ketika.
Hingga benih tau semuanya, bukan karena akan hujan petani itu pergi. Dari kejauhan benih melihat petani menatap ke pohon, pohon yang semakin layu. Terlihat kerinduan di mata sang petani terhadap pohon. Disitulah benih menyadari apa yang terjadi. Yang terjadi adalah bahwa petani bukan miliknya. Petani milik pohon tersebut. Kesalahan terbesar benih adalah membiarkan dirinya tumbuh. Kesalahan benih adalah membuat pohon tersebut semakin menderita. Kesalahan terbesar benih adalah membuat perhatian petani teralihkan disaat pohon begitu membutuhkan petani. Itu yang sangat disesali benih.

Benih berharap dari kejauhan, petani itu mendatangi lagi pohon itu. Memberi pohon itu semangat untuk melanjutkan hidup lagi, membangun lagi kebahagiaan itu lagi. Itu harapan benih.
Akhirnya, harapan benih terkabul. Petani kembali lagi mengunjungi pohon. Pohon kembali lagi berusaha hidup. Kembali berusaha menumbuhkan daun-daunnya yang berguguran. Berusaha menghasilkan buah-buah yang lama tidak muncul. Satu hal yang petani dan pohon tidak tahu. Mereka hanya sedang mengalami musim gugur. Pohon itu sedang melewati musim gugur sebelum kembali bersemi.

Dari kejauhan, benih ingin sekali meminta maaf kepada sang pohon karena sempat mengusik kebahagiaannya dengan mengambil alih perhatian sang petani meski hanya sesaat. Namun apalah daya benih yang kecil itu tidak bisa menghampiri pohon, dia tertambat beberapa ratus meter dari pohon itu. Tertambat di tanah. Hanya bisa melihat dari kejauhan. Benih sungguh ingin meminta maaf.
Benih berdoa semoga pohon dan petani itu bisa melewati segala musim bersama, tidak peduli itu menyedihkan sekalipun. Semoga pohon dan petani itu bahagia, selalu.

Benih? Apa yang terjadi dengan benih? Benih tetap tumbuh dengan sendirinya.
Benih hanya berharap bisa menjadi teman pohon itu, berharap bisa belajar banyak dari pohon bagaimana tumbuh menjadi pohon yang bisa memberikan kebahagiaan bagi sekitarnya. Benih berharap akan ada petani lainnya yang bisa merawatnya dengan kasih sebagaimana petani si pohon itu. :))

Kamis, 19 September 2013

Kenangan 4

Sempat terhenti menceritakan kisah ku karena sebenarnya menuliskannya penuh emosi :D
Tapi, aku ingin membagikan cerita ini untuk menjadi pelajaran buat teman-teman semua, bukan untuk dikasihani atau apapun. Semoga bermanfaat. :)

26 Desember 2004
Hari itu minggu. Hari dimana seluruh siswa bekerja sama gotong royong membersihkan segala sudut asrama, sekolah. Begitu pun aku dan beberapa temanku yang kebagian jatah membersihkan halaman depan asrama. Saat sedang mencabut rumput, temanku tiba-tiba berkata "Dara, koq aku pusing ya, kaya gempa". Aku yang belum merasakan getaran bumi tersebut hanya berkata "Perasaan kamu aja kali". Namun, tidak lama setelah berkata begitu aku juga merasakan gempa yang mengguncang bumi Aceh pagi itu.
Lantas semua orang tiba-tiba berseru panik dan lafadz tahlil kemudian terdengar dimana-mana. Aku yang baru pertama kali merasakan gempa sedahsyat itu langsung menangis. Aku takut melihat pepohonan yang nyaris seperti hendak tumbang. Aku takut meilhat tanah tempatku berpijak mulai terlihat retakan. Aku takut hari itu merupakan kiamat.
Diantara isakan tangis teman-teman, kalimat-kalimat tasbih, aku berdoa dalam hati "Ya Allah, lindungi keluarga ku, kalaupun hari ini memang kiamat, sempatkan ayah dan mamaku menyebut namaMu" hanya itu doaku, doa yang terus ku ulang-ulang hingga aku merasakan guncangan telah berhenti.
Aku merasa lega, bersyukur karena setelah kami menunggu beberapa saat semuanya tenang tidak terjadi apa-apa. Kami melanjutkan kembali aktivitas kami.
Lima belas menit kemudian, ternyata inilah puncak segala kuasa Allah ditunjukkan.
Orang-orang tiba-tiba ramai berlarian sambil berteriak "Air laut naik, air laut naik!! Lari dek, lari"..
Kami yang belum mengerti apa-apa panik berlarian memanggil para ustadzah.
Saat itu keadaan benar-benar kacau, siswa-siswi berlarian ke luar dari sekolah ikut berlarian bersama warga. Kami terpencar. Aku bersama teman sekaligus saudara ku ikut berlarian menuju daerah Beurawe. Kami melintasi jembatan yang dibawahnya mengalir sungai. Aku kaget melihat sungai tersebut telah penuh dengan segala barang, mobil, kayu, peralatan rumah tangga, dan macam-macamnya.
"Ya Allah" hanya itu yang bisa aku gumamkan. Aku hanya bisa membayangkan apa yang terjadi, tanpa mengetahui dengan pasti.
Kami berlari selama 2 jam menuju Aceh Besar, tanpa merasa lelah sedikitpun karena kepanikan dan ketakutan yang kami rasakan.
Tiba disebuah mesjid, kami berhenti karena melihat beberapa siswa sekolah kami. Posko-posko mulai dibangun untuk sementara.
Aku duduk disalah satu sudut mesjid. Aku menangis. Aku takut membayangkan yang terjadi dengan kedua orang tuaku dan adikku. Rumah ku tidak jauh dari pantai.
***
Gempa susulan itu masih terasa berpuluh-puluh kali sejak gempa dahsyat yang pertama kali. Kabar dari kota Banda Aceh yang diberi tau salah seorang penduduk daerah setempat bahwa kejadian tersebut memakan ribuan korban jiwa.
Mendengar kabar ini tangisku kembali tumpah, apa yang terjadi dengan orang tua ku?Adikku? Saluran telpon bahkan tidak bisa digunakan lagi.
Kami hanya bisa menunggu. Menunggu keadaan kembali normal.
***
"Sabar sayang, mama sama ayah Dara pasti lagi bersih-bersih rumah abis kebanjiran" Begitu kata salah seorang ustadzahku yang berusaha menenangkanku setelah seharian aku menangis tanpa henti. Masih belum ada kabar apapun dari keluarga ku, juga keluarga teman-temanku.
Setelah hampir satu hari kami mengungsi di mesjid, kepala sekolah ku datang. Beliau mengajak sekitar 30 murid yang baru kelas 1 SMP untuk ikut kerumahnya. Termasuk aku dan saudaraku, Nisa.
Rumah beliau bebas dari kejadian itu. Kami tidur berdesak-desakan, dalam keadaan gelap, karena listrik padam, disertai hujan dan masih gempa susulan.
Satu persatu teman-temanku dijemput. Hal itu membuat aku tambah bersedih. Mana mama? ayah? kenapa tidak menjemputku?
Hingga hari ketiga aku menunggu mereka belum datang. 
***
Hari keempat, Nisa dijemput oleh saudara dari pihak ibunya. Nisa memintaku ikut dengannya, dikarenakan memang rumah kami dekat. Aku masih ragu, karena takut ketika orang tuaku menjemput, mereka tidak menemukan ku. Namun, Nisa memaksa dan mengatakan nanti aku diantar ke rumah. Aku menurut karena aku tidak ingin tinggal lagi di rumah kepala sekolah ku seorang diri. Semua teman-teman telah dijemput keluarganya.
Setiba di rumah saudara Nisa, aku melihat ayah Nisa dan adik laki-lakinya yang di rawat dengan beberapa luka disekujur tubuh.
Aku bertanya pada ayah Nisa, mana mama nisa dan adik perempuannya. Ayah nisa hanya menangis.
Aku langsung merasakan sesuatu yang aneh. Aku bahkan tidak mengharapkan jawaban dari ayah Nisa lagi. Aku tau.
"Kak Dara, Am malam minggu sebelum kejadian nginap di rumah Kak Dara" ujar adik laki-laki Nisa yang memang sering bermain bersama adikku.
Aku langsung terlonjak, lantas memburu Am dengan banyak pertanyaan. "Terus Am berarti waktu kejadian ada sama mama, ayah ka Dara? Zaky gimana? Mereka mana? Kenapa ga datang?" Sambil menahan gejolak emosi aku bertanya.
"Am ga tau kak, sebelum gempa Am udah pulang, sampai di tengah jalan baru kerasa gempa, dan ga lama Am lihat ombak gede, Am ga tau apa-apa lagi", jawaban Am membuat hati ku semakin gelisah akan nasib kedua orang tuaku.
Allah, aku masih mengingat jelas saat-saat itu, hingga saat aku menuliskan ini.
***
Beberapa hari setelahnya, aku dijemput oleh kakak sepupu terdekat ku, Kak Inyak. Kak Inyak membawa ku ke Peureulak, tempat nenek. Tanpa ada yang menjelaskan nasib orang tuaku, aku sudah bisa menebak. Aku bahkan tidak bisa menangis lagi selama beberapa saat. Aku tidak merasakan apapun Hanya hampa. Bagaimana mungkin aku tidak bisa melihat orang-orang terkasihku lagi? Aku nyaris gila. Saat umurku masih 12 tahun, aku sudah kehilangan segalanya. Semua orang terkasihku. Aku sebatang kara.
***
Kejadian itu 9 tahun yang lalu. Banyak hal yang telah terlewati. Banyak perjalanan hidup yang aku tempuh sendiri. Sekarang aku bukan anak 12 tahun yang hampi gila itu. Aku sekarang menjadi seorang wanita yang kuat. Aku banyak mengambil pelajaran dari kehidupan ku. Bahwa segala yang telah ditakdirkan Allah untuk ku semuanya pasti memiliki hikmah. Aku sekarang ikhlas dengan segala garis kehidupan yang telah diatur Allah. Aku berharap, semoga dengan kisah ini, semua orang bisa dengan lapang hati menghadapi permasalahan hidupnya. Bukan hanya kita yang punya masalah, orang lain mungkin punya masalah yang lebih besar dari kita, namun mereka mampu melewatinya.
Seperti kata ayah "Kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak?"

End.
Bogor, 20 September 2013.

Selasa, 17 September 2013

Untuk Ayah

Air mata itu terus mengalir deras. Dibawah tatapan ayah yang dengan sabar mengajariku matematika. Saat itu aku duduk di kelas 3 SD, dan aku sangat payah dalam hal pelajaran matematika. "Ayo coba lagi, ini ayah kasih 10 soal coba dikerjakan" Ujar ayahku menyerahkan buku tulis yang berisi soal-soal yang bagiku benar-benar menyusahkan. Aku dipaksa belajar oleh ayah selama hampir 3 jam di dalam kamar yang terkunci tanpa boleh keluar sebelum mengerti pelajaran ini. Aku yang kesal, jenuh, akhirnya tak kuasa menahan tangis. Bukan karena marah dikunci di kamar, tapi aku menyesali kenapa aku begitu sulit mengerti pelajaran ini. Ayah yang seolah tidak melihat bulir air mataku, dengan santai terus sabar mengajariku. Hingga sejam kemudian aku bisa tersenyum dan dengan mantap mengerjakan soal-soal lebih sulit yang diberikan ayah berikutnya. Akhirnya aku mengerti. Dan terlihat kebanggan di mata ayah.
***
Pagi itu, seperti biasa adalah tugas ayah yang membangunkan aku dan adikku untuk bersiap-siap berangkat sekolah. "Hei anak ayah yang pemalas, ayoo bangun, sekolah" ayah menciumi kami dan jahil menggelitik kaki kami. Aku menggeliat dan sengaja tidur lagi, mengisengi ayah agar lebih lama membangunkan kami. "Adek ga mau bangun kalo ga digendong" seru adik ku yang masih bertahan di tempat tidur. Ayah juga seperti biasa langsung menggendong adikku dan membawanya ke kamar mandi agar adikku segera mandi. "Kakak juga mau digendong" ujarku merengut karena cemburu melihat ayah menggendong adikku. "Kalo kakak yang digendong, ga lama lagi ayah bungkuk", dengan tertawa ayah menjawabku. 
***
"Ayah, nanti kalo uda gede, kakak mau kuliah ke Amerika" saat itu aku sedang membolak balik halaman sebuah majalah yang memuat tentang negeri Paman Sam tersebut. "Adek juga yah, adek mau kuliah ke luar negeri", adikku tidak mau kalah menyambung. "Adik mau ke luar negeri mau kemana?" Ayah bertanya dengan antusias. "Adek mau ke India" jawabnya dengan polos. Ayah hanya tertawa mendengar jawaban itu, "Kalo kalian rajin belajar, kemanapun kalian mau pasti bisa" ayah mengingatkan kami. Itulah ayah, selalu memotivasi kami.
***
"Ayah, kakak kangen" saat ayah menelepon untuk mengabarkan bahwa ayah telah sampai di Jakarta karena selama 2 bulan akan menyelesaikan beberapa tugas kantor. "Adek juga, nanti ayah pulang bawa oleh-oleh ya" Adikku malah langsung menodong oleh-oleh bahkan disaat baru hari pertama keberangkatan ayah. "Tapi ayah koq ga kangen ya" ayah dengan jail menjawab kami sambil tertawa. Aku yang mendengarnya langsung sedih, meskipun tau perkataan ayah hanya bercanda. Kami jarang terpisah lama. Ayah selalu ada buat kami.
***
Aku terus menunduk. Ayah hanya diam tanpa berkata apa-apa dan terus menatapku saat aku tidak menjawab pertanyaannya "Kenapa kakak mau main ga bilang?". Aku bahkan tidak berani sekalipun mengangkat kepala untuk menatap ayah dan menjawabnya. Itu kali pertama aku melihat ayah marah. Ayah marah karena aku pulang sekolah tidak langsung pulang dan bermain dirumah temanku hingga hampir maghrib. Ketika pulang mama langsung memarahiku dengan omelan-omelan panjang dan nyaris mencubitku, tapi dilarang oleh ayah. "Ga boleh mendidik anak dengan pukulan" begitu komentar ayah pada mama. Namun, tatapan ayah lebih menyeramkan dari pukulan itu sendiri. Aku berjanji sejak saat itu tidak membuat ayah marah lagi.
***
Ahh, sangat banyak kenangan-kenangan yang terlintas di kepala ku tentang ayah. 
Ayah yang sangat mencintai keluarganya, bahkan sesibuk apapun ayah tetap menyempatkan waktu buat kami, secapek apapun ayah tetap sabar mendengar ocehan-ocehan kami.
Ayah yang bukan tipe pendidik dengan kekerasan, namun tegas. Bahkan tak sekalipun ayah pernah memukul kami, hanya dengan tatapan membuat kami segan melakukan kesalahan hingga membuatnya marah.
Ayah mendidik kami menjadi anak yang mandiri, tidak manja.
Ayah yang tidak segan mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus kami anak-anaknya ditengah segala kesibukannya.
Ayah yang selalu menyediakan hari liburnya untuk mengajak kami jalan-jalan, mengenal lingkungan dan alam.
Ayah.. Dia ayah kami, ayah terhebat yang pernah ada.
Meskipun hanya 12 tahun aku merasakan hidup bersama ayah bahkan tidak mengurangi rasa cinta dan hormatku pada ayah. Aku menyayanginya. Sangat menyayangi ayah.


Hari ini tepat dimana hari kelahiran ayah, 17 September.
Aku hanya bisa mengirimkan doa untuk ayah,
Semoga ayah disana tenang, ditempatkan di sisi-Nya.
Untuk ayah, semoga kelak kita bisa berkumpul lagi, bersama, selamanya.

Bogor, 17 September 2013
*Putri mu, Ayah :')

Minggu, 01 September 2013

Pecinta Cermin

Kalau mendengar kata cermin, bukankah identik dengan wanita?? Ya, wanita sangat mencintai cermin, dimana ada cermin disitu ada wanita. Begitulah istilahnya.
Contohnya saja aku memiliki seorang teman yang sangat tergila-gila dengan cermin, sehingga jika kamu membutuhkan dia cukup acungkan saja cermin, dan dengan sendirinya dia akan mendekat. Itu berlebihan sebenarnya, tapi memang begitu adanya.
Temanku yang lain tidak jauh berbeda, kemanapun pergi dengannya, jika ada benda yang dapat memantulkan bayangan, maka dia akan berhenti sejenak. Aku pernah hampir terlambat mengikuti sebuah seminar di kampusku saat pergi dengannya. Setiap ada kaca jendela, kaca pintu, maka setiap itu dia akan berhenti.

Berbeda denganku, aku membenci cermin. Tidak. Tidak sepenuhnya membenci cermin, hanya saja aku tidak menyukai cermin.
Mengapa bisa begitu? Aku sebelumnya akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu.

Namaku Salsabila Karisya. Bagus bukan? Ya, semua orang yang mendengar namaku pasti membayangkan akan melihat sosok seorang gadis yang anggun, jelita, lemah lembut dan bersahaja. Simpan saja bayangan itu. Lanjut perkenalan tentangku. Aku seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri yang berbeda dari kota kelahiranku. Saat ini aku telah menyelesaikan 6 semester di kampusku itu. Aku menyukai mesin, sehingga aku mengambil jurusan teknik mesin. Bisa kalian bayangkan orang yang mempunyai nama indah tersebut bekerja dengan berbagai macam mesin? Kali ini mungkin bayangan tentang keanggunan, kelemahembutan ku semakin berkurang. Tetap simpan saja bayangan itu. Aku anak terkahir dari tiga bersaudara. Saudara-saudaraku semuanya lelaki, kakakku yang pertama sudah menikah dan tinggal jauh dari orang tuaku, kakakku yang kedua bekerja di sebuah perusahaan di kota kelahiranku. Bisa bayangkan? Aku hidup diantara dua saudara lelakiku? Silahkan tambah saja bayangan kalian tentang diriku.
Karena aku kuliah di kota yang berbeda dari kedua orang tuaku, maka aku menyewa sebuah kamar di sekitaran kampusku. Kamar inilah menjadi tempat favoritku. Aku termasuk orang yang susah bergaul dengan orang, sehingga aku lebih menyukai kesendirianku, menghabiskan berjam-jam untuk membaca novel kesukaanku, menonton film-film favoriku, daripada harus berkumpul dengan orang-orang sekitarku. Mungkin cukup perkenalan yang jika dilanjutkan tidak ada juga hal-hal menarik yang bisa aku ceritakan.

Kembali ke cermin. Aku tidak mengerti kenapa wanita begitu menggilai cermin. Entah aku yang aneh, atau mereka yang menurutku aneh. Tergantung sudut pandang masing-masing.

Tidak semua cermin aku hindari, aku hanya menghindari cermin yang dengan jelas memantulkan bayangan wajahku, tapi sesekali aku bercermin pada kaca-kaca yang dapat memantulkan dengan samar bayangan diriku.
Seperti, ketika sedang berjalan aku melewati sebuah mobil yang memiliki kaca berwarna hitam, aku berhenti sejenak melihat tampilan diriku. Saat aku melintasi etalase-etalase toko aku sejenak bercermin. Hanya itu. Bahkan aku hanya mempunyai sebuah cermin kecil di kamar kosanku dan itupun aku pakai ketika saat-saat yang benar dibutuhkan. Selebihnya cermin itu akan tersimpan rapi di laci meja belajarku.


Mungkin alasanku membenci cermin cukup bisa diterima sebagai alasan yang paling klise. Aku tidak memiliki wajah yang cantik, wajahku sangat dibawah standar, begitu lah kataku. Hidung ku pesek, kulitku hitam, aku mempunyai bibir yang asimetris menurutku, kulit wajahku penuh dengan bintilan-bintilan yang disebut jerawat, dan jika aku sebutkan kekurangan-kekurangan lainnya maka kalian bisa membayangkan seorang alien. Yaa, itu alasan yang selama ini aku simpan rapat-rapat di dalam hatiku yang paling dalam. Cukup hanya aku yang tau. Bisa dibilang aku tidak bersyukur dengan semua yang aku miliki.

Suatu ketika, aku menjalani KKN di sebuah daerah terpencil di kota aku menempuh pendidikan tinggiku. Disana aku bertemu seorang gadis kecil, yang aku tidak sanggup melukiskan dengan kata-kata kondisinya. Dia cacat fisik, bahkan jika aku menggambarkan diriku alien, dia merupakan alien teraneh yang pernah aku liat. Namun, satu hal yang tidak aku lihat dari dirinya jika dibandingkan dengan diriku, dia tidak mengeluh dengan kondisinya. Dia begitu bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Aku membayangkan jika menjadi dirinya, aku akan meringkuk di rumah dan tidak ingin bertemu satu orang pun. Tapi tidak begitu dengan gadis kecil ini, dia begitu periang, memiliki banyak teman, senang membantu orang, dan cacat fisiknya sama sekali bukan masalah untuk dipandang, dia bahkan terlihat sangat cantik dengan kondisinya yang seperti itu.

Aku begitu merasa malu dengan diriku, aku yang sudah kuliah semester 6 menjelang 7 bahkan tidak bisa berbesar hati seperti gadis kecil berusia 10 tahun itu. Aku yang bahkan sebenarnya memiliki fisik yang tidak jelek, masih dalam kategori standar, masih belum bisa bersyukur.
Sungguh mulai saat itu aku tidak lagi membenci cermin. Tidak lagi menghindari cermin.
Aku menjadi pecinta cermin, bukan untuk merias diri seperti wanita lain. Namun untuk bersyukur atas apa yang diberikan Allah atas diriku.
Setiap melihat cermin, aku melihat begitu banyak nikmat Allah yang telah diberikan dalam kehidupanku. Setiap melihat cermin aku melihat bahwa masih banyak orang-orang lain yang kurang dari ku, namun mereka bisa bersyukur. Maka kenapa aku tidak??

Bogor, 1 September 2013
*Inspirasi dadakan :))

Jumat, 26 Juli 2013

"Kepo" vs Cewek

Dasar cewek, udah tau "kepo" itu berujung menyakitkan, tapi tetap saja dilakukan.
Itu lah salah satu kebodohan seorang cewek yang sulit dimengerti.
Salah satunya "kepo", baik kepoin pacar, gebetan, mantan, mantannya pacar, mantannya mantan pacar, mantannya gebetan, segala macam mantan-mantan itu pasti dikepoin. Dan anehnya, mereka para cewek tau persis mereka pencemburu, dan akan cemburu jika menemukan "sesuatu" dari hasil peng-kepo-an itu, tapi kepo tetap aja diteruskan. Padahal juga terkadang yang dikepoin itu bisa jadi masa lalu "si target", tapi tetap saja terbakar api cemburu, bikin nyesek. Jangan bilang ga?  
Ada yang ga ngaku kepo, hanya lihat-lihat, hey girls kalau ga punya rasa ngapain liat-liat.
Ada yang berpura-pura sok kuat, sok tegar, ngakunya ga kenapa-kenapa saat kepo, padahal hatinya teriris-iris melihat semua itu(bahasa lebaynya).
Ada yang sok-sokan ga mau kepo, tapi nanya ke teman "si target", bedanya apa coba?
Ada juga yang udah kepo, ga ngaku kepo, tapi tau segala informasi tentang "si target", ini bohong banget yaa -_-
Intinya cewek dan "kepo" itu sangat sulit dipisahkan.
Ga terkecuali yang nulis, #ehh

Selasa, 23 Juli 2013

DARA (oleh Alfi Rahman)

Namanya Dara, 11 tahun gadis manis periang dan tentu saja pintar. Dara yang solehat yang senantiasa menurut apa kata orang tuanya. Jarang sekali kutemukan sesuatu sifat jelek dalam dirinya. Jikapun ada yang membuat sudut hatiku terasa teriris-iris saat menyadari bahwa Dara harus kehilangan kedua orang tuanya dan adik satu-satunya Zaky pada musibah 26 Desember 2004 yang lalu.
Namanya Dara yang dalam bahasa Aceh berarti gadis yang manis, sesuai benar dengan orangnya. Aku takjub melihat deretan angka-angka di rapor dan ijazahnya semuanya 9, kata gurunya jika bisa ditaruh angka 10 maka Dara pantas mendapatkannya. Sejak kecil Dara memang terlihat menonjol dari anak-anak seusianya. Percaya diri yang tinggi dulu senantiasa ku saksikan. Namun sekarang ada yang hilang disana, pengalaman menyelamatkan diri dari Tsunami yang juga menghantam asrama pesantren tempat ia belajar pasti belum hilang begitu saja. Berlari-lari dalam kepanikan ribuan orang menyelamatkan diri dari kejaran Tsunami. Apalagi status yatim piatu harus disandangnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya
“Om Dara besok Ulang Tahun” suatu ketika Dara menginformasikannya padaku sambil menodongku agar menyediakan kado.
“Adek juga om” Zaky 8 tahun adik Dara yang juga menginginkan kado walau ulang tahunnya masih lama..
“Ih ulang tahun kok bisa bareng, persekongkolan” ujarku, dengan wajah menahan lucu sambil pura-pura berfikir sejenak, Aku menarik nafas dan tersenyum.
“Hmm, boleh!” dua pasang mata bocah itu berbinar mendengar kesediaanku
“Hadiahnya kue cap tinju mau?” Lanjutku bercanda diiringi lemparan bantal milik mereka berdua.
Namanya Dara, sangat pandai menyimpan perasaan dukanya, Dara tidak ingin orang merasa kasihan padanya. Senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Tangisnya tertahan saat Dara sendirian di kamar dan memandang foto Ayah, Mama dan Adiknya. Tangis itu tersembunyi, hanya gerakan bahunya yang naik turun, menggambarkan duka lara yang selama ini terpendam. Sepasang mata milik Pik pengasuh Dara diam-diam memperhatikan dari sudut pintu kamar, Pik berusaha menahan gemuruh di dadanya, namun Pik tidak sekuat Dara, Pik menangis sejadi-jadinya seakan merasakan apa yang dirasakan Dara.
Namanya Dara, tangannya ragu-ragu mengambil beberapa batang coklat di rak supermarket disebuah Mall di Medan.
“Kok Ragu? Ambil saja” ujarku pada Dara.
“Nggak om, adek kan ga ada lagi, tadi teringat adek, adekkan suka coklat ini” jelas Dara tersenyum. Aku pun tersenyum tidak sanggup berkata-kata lagi.
“Ah Dara” gumamku dalam hati.
Namanya Dara lahir di Peureulak Aceh Timur, konon daerah kelahiran Dara inilah masuk Islam pertama di Tanah Air, dan setiap orang yang lahir daerah ini merasa bangga dengan sejarah itu, dan Dara salah satunya. Dara yang hanif, Dara yang mau masuk pesanantern walaupun harus kalah argumen dengan mamanya, karena Dara ingin masuk tsanawiyah.
“Wah ternyata mama benar ya, memasukkan Dara ke Pesantren dan masuk Asrama, coba di rumah terus…” ujar Dara menggantung kalimatnya saat menyaksikan puing-puing rumahnya yang luluh lantak diterjang Tsunami di daerah Kajhu, Aceh Besar.
Namanya Dara, jelas sekali terdengar isak tangisnya di ujung telpon. Hp ku menangkap dengan jelas harapan yang besar pada setiap nada suara milik Dara. Sebuah keinginan kejelasan akan nasib kedua orang tua dan adiknya tercinta.
Om jangan bohong ya, katanya mobil Ayah sudah dapat ya?”
“Ayah, Mama dan Adek ada om?”
Om tolong kasih tau dong om?” Dara mengajukan pertanyaan beruntun kepadaku, sementara aku terduduk kelelahan menyaksikan mobil milik Ayah Dara yang tidak utuh lagi di dalam sebuah kolam. Mobil itu terdampar 500 meter dari puing-puing rumahnya tepat sebulan sesudah kejadian Tsunami.
Dua sosok Jenazah yang tidak utuh lagi baru saja dievakuasi dari mobil, dipastikan Jenazah itu adalah milik Mama dan Adik Dara. Sementara menurut saksi mata yang hidup Ayah Dara sempat keluar dari Mobil pada saat Air Tsunami menghanyutkan segalanya.
“How can I tell Dara!” pikiran ku bekecamuk.
Namanya Dara, Bercita-cita ingin menjadi dokter dikemudian hari. Matanya berbinar membuka lembar demi lembar majalah informasi Study Abroad yang dikirim oleh sebuah lembaga padaku.
“Om Dara bisa ga ya sekolah keluar Negeri” matanya masih tidak lepas dari majalah tersebut sambil mengelus-elus gambar didalamnya.
“Tentu saja bisa, asal rajin belajar”
“Inggris, Amerika… Australia aja ah kan dekat” lanjutnya sambil berfikir dan seulas senyum melukiskan imajinasinya. Aku tersenyum, pasti imajinasi sudah menghantarkannya ke dunia yang penuh salju, baju hangat dan tidak lupa permainan lempar bola salju sebagaimana yang sering disaksikannya di televisi.
Namanya Dara. “Rahmah Dara Ayunda” lengkapnya.
“Om Dara takut” begitulah isi SMS yang senantiasa dikirimnya saat gempa masih saja menggetarkan tanah Aceh. Biasanya aku akan senantiasa menelponnya dan berusaha menenangkan.
Om tolong lobi nenek agar Dara bisa sekolah di Banda Aceh, dan tinggal sama Om
Om pelajaran dikampung membosankan”
“Om Dara mau ikut les, tapi..”
“Om Dara Kangen ma Ayah, Mama dan Adek”
“Om Makasih ya atas hadiah Qurannya”
Begitulah Dara, keponakanku tercinta, di antara Adik-adik Ayahnya. Akulah paling dekat dengannya. Insya Allah aku akan menjaganya, mewujudkan impiannya, terlebih lagi menjadikannya mutiara Aceh, wanita sholihat yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya. Cukuplah keutamaanku mendapatkan pahala dari memelihara anak yatim piatu. Inilah mimpiku. Sanggupkah Aku?

Minggu, 14 Juli 2013

Sepenggal catatan hati

Kawan, berbicara masalah hati bukan hal yang mudah untuk dibahas, dipahami, dimengerti..
Aku bahkan tidak percaya ada orang yang bisa memahami hati orang lain dengan sebenar-benarnya mengerti.
Bisa saja ketika orang tersebut mengatakan ikhlas, ada secuil rasa tidak rela yang terbersit.
Bisa saja ketika orang tersebut mengatakan bahagia, ada kesedihan yang menyempil di dalam hatinya.
Bisa saja ketika orang tersebut mengatakan percaya, ada sedikit keraguan dalam hatinya.
Atau bahkan bisa saja ketika orang tersebut mengatakan cinta, ada seberkas benci yang kadang timbul tenggelam dalam hatinya.
Siapa tau??

Senin, 27 Mei 2013

Tahukah Kamu Di Mana Aku Kala Hujan ?

Dapat note dari temen yang bagus banget, ingin berbagi ke kalian semua, semoga ikut terharu bacany :")

“Sudah berapa lama kamu disini ?”, Aku memberanikan diri bertanya.
“3 jam”, jawabnya datar.
“Boleh aku duduk di sini ?”, entah mengapa kata ini yang keluar.
Aku menyumpahi ketololanku. Dia diam saja, aku menganggapnya sebagai sebuah penolakan. Diam berarti tak ingin diganggu. Aku berjalan menjauh darinya perlahan tanpa berpamitan. Aku menghilang dan mengamati dari jauh untuk memastikan, apakah perempuan itu mencariku. Ternyata tidak!!!

Tahukah kamu dimana aku kala hujan?
Disini, pada selasar panjang yang menyediakan pemandangan sebuah gedung fakultas seberang. Kamu yang selalu duduk disana bersama teman-temanmu menunggu hujan. Aku penasaran sekali mengapa engkau tak pernah menerobos hujan dengan payungmu, tapi memilih menunggu.

Tahukah kamu dimana aku kala hujan?
Disini, ada sebuah bangku panjang aku menghabiskan buku. Lebih tepatnya pura-pura menghabiskan buku. Sebenarnya mata tak tertuju pada kata-kata. Tapi kepadamu, yang duduk di bangku panjang beberapa ratus meter di depan sana.

Musim sebentar lagi berganti. Tidak ada lagi hujan - hujan deras seperti ini. Tidak ada lagi hujan yang mampu menahanmu sejam - dua jam untuk tak segera pulang.

Tahukah kamu dimana aku kala hujan?
Di atas sajadah panjang yang lusuh, aku berdoa semoga sebelum musim hujan selesai. Kita tidak lagi saling sembunyi. Doa di kala hujan pasti terjadi, Tuhan telah berjanji.


Kurniawan Gunadi
Bandung, 21 Mei 2013

Minggu, 26 Mei 2013

Bukannya Aku

Sempat nyoret-nyoret disaat penat dengan tugas,, dan jadilah puisi ga jelas ini,,

Bukan, bukannya aku menunggu bulan
Hanya ingin menikmati malam
Bukan, bukannya aku menunggu pelangi
Hanya ingin menjangkau matahari

Yaa seperti inilah aku yang berharap kesejukan malam
Seperti inilah aku yang merindukan hangat mentari

Cukup, cukup seperti ini
Malam tetap hadir meski bukan hanya untukku
Mentari tetap bersinar meski kadang tertutupi

Aneh banget pasti yaa,, hahaha -_-"
Maklum, ga bakat puisi-puisian,, :p 

Kamis, 23 Mei 2013

Hobi Baru

Halooo :) Dara lagi punya hobi baru, mengupas segala sesuatu tentang yang namanya suka, kagum, cinta, sakit  hati, patah hati apapun itu lah berkaitan dengan perasaan, dikutip dari berbagai pengalaman orang, pengalaman pribadi, :D
Jadi beberapa postingan terakhir terkait dengan hobi baru Dara, semoga tidak membosankan..
Silahkan yang punya pengalaman share ke Dara, biar dijadiin bahan untuk tulisan-tulisan di blog ini..
Terima kasih telah mengunjungi blog abal-abalan ini,,

Perasaan yang Terpendam


Bukan hal yang mudah memendam perasaan,, 
Kamu harus berpura-pura senang ketika mendengarnya bercerita tentang perempuan lain yang dikaguminya,
Kamu harus menahan kecemburuanmu ketika melihatnya dekat dengan orang lain, 
Kamu harus menahan diri untuk menjaga perasaanmu agar tak diketahui olehnya, 
Serius,!! itu tidak gampang, tidak segampang teori yang orang-orang katakan bahwa kita akan ikut merasa senang ketika melihat orang yang kita suka juga senang bahkan tanpa memilikinya sekalipun, ikut merasa senang ketika melihatnya senang bersama orang lain, sama sekali bukan perkara gampang..
Aku rasa setiap orang pasti pernah memiliki perasaan yang terpendam pada orang lain, hanya saja setiap orang berbeda dalam menanggapinya,,
Ada yang tidak bertahan lama memendamnya sehingga mengungkapkannya ga peduli apapun tanggapan si Dia, 
Ada yang akan membelokkan perasaan itu ketika merasa tak ada tanggapan, 
Ada yang tetap membiarkan perasaan itu tumbuh terus berkecambah hingga sulit mencari pengganti, 
Ada juga yang tetap membiarkan perasaan itu tumbuh, meski dia bisa menerima orang lain tapi hatinya tetap mengharapkan lelaki pujaannya, adaa 
Bermacam-macam bukan??

Jatuh Cinta

Kalian pasti pernah kan merasakan yang namanya jatuh cinta? Ya, aku ingin membahas hal yang pasti semua orang pernah mengalaminya ini..
Jatuh cinta, dua kata yang sederhana sebenarnya, tapi begitu dalam maknanya dan dampaknya (kata orang2 sih).
Tapi menurutku itu sangat benar, jika suka pada orang bisa dikategorikan cinta, aku pernah mengalaminya beberapa kali..
Aku pernah jatuh cinta "suka" pada orang yang bahkan menganggapku ada saja, tidak.
Aku pernah menyukai orang yang, yaa syukur juga punya perasaan yang sama.
Aku pernah menyukai orang yang aku tau , dia seorang pemain hati (playboy).
Aku pernah juga menyukai orang yang menyukai orang yang bahkan aku tidak tau dia luar dan dalam, hanya sekedar mengenalnya dari jejaring sosial dan bim salabim rasa suka itu ada.

Intinya, dari sekian perasan suka yang pernah aku rasa, ada semacam kesimpulan yang bisa aku ambil..

Pada siapapun kamu jatuh cinta, cinta itu sederhana, jika kita sendiri yang menyederhanakannya,, Tapi bahkan bisa menjadi rumit kalau kita sndiri yang merumitkannya,,
So, nikmati lah masa2 jatuh cinta kalian, sedih senangnya itu merupakan salah satu pelajaran, dimana nanti kita bisa menghargai cinta dan memilih cinta yang tepat :)

Sabtu, 18 Mei 2013

Logika vs Hati


Heii, apa yang bisa kamu lakukan jika kamu mencintai orang yang telah mencintai orang lain?? Yap, nothing to do,,
Itu yang bebetapa saat aku rasakan, aku mencintai dia yang telah menemukan tambatan hatinya, aku terjebak dalam pengharapan, dalam mimpi-mimpi yang aku buat sendiri dalam imajinasi ku, dan ketika aku tersadar kembali ke alam nyata? Aku tertohok bahwa semua itu hanya lah mimip-mimpi yang aku sendiri tau itu tidak akan pernah menjadi kenyataan..
Hei, siapa yang mau terus terjebak dalam situasi seperti ini? Aku yakin bahkan tidak ada seorang pun yang mau, semua pasti ingin menemukan kebahagiaan di dunia nyata, bukan sekedar harapan atau bahkan mimpi-mimpi.. tapi apa daya? Ketika hati menuntut bahwa cinta ini hanya untuknya? Apa daya ketika hati menyuruh bertahan dengan harapan dengannya?
Hei, tahukah kamu? Bahwa melawan hati adalah sebuah pertarungan yang sangat berat, bahkan lebih berat daripada pertarungan apapun, logika ingin mengenyahkan mimpi-mimpi itu, mencoba menemukan kebahagiaan nyata meski bukan dengannya.. tapi hati terus berontak bertahan pada dirinya, sekarang siapa yang harus disalahkan dan harus mengalah??
Hei, sekuat apapun logika berusaha, tetap saja jika hati tidak bisa diajak bekerja sama hasilnya tidak sempurna, tidak sempurna move on (istilah sekarang).. so?? Apa yang harus dilakukan? Ya seperti sekarang yang aku alami, terus berperang, dan kadang mencapai titik lelah tak terkira, membiarkan hati menyakiti dirinya sendiri,,
Heii.. Mencintai itu sungguh bukan hal yang gampang

Senin, 24 Desember 2012

Sedikit curhatan

Bukan karena ingin dikasihani orang2 menuliskan segala sesuatu, mulai dari kisah hidup, perasaan sedih, senang, marah, galau, dan sebagainya di jejaring sosial,,
Hanya terkadang jika dipendam sendiri rasa itu semakin menjadi duri di hati, juga terkadang tidak ada orang yang bisa dijadikan tempat curhat, sehingga berharap dengan menuliskannya ada sedikit saja yang mengerti. Ya mungkin dengan menuliskannya, berharap rasa segala macam itu sedikit tersalurkan, sedikit merasa terkurangi beban dikarenakan telah berbagi meskipun tidak jelas siapa mereka yang dijadikan tempat berbagi. Atau juga tidak berani mengungkapkan langsung rasa yang menyakitkan itu, sehingga ketika dituliskan perasaan itu tersampaikan walau kita ga tau bahkan mereka yang kita maksud akan melihatnya atau tidak, hanya sedikit lega saja yang dirasakan.